Negara Indonesia merupakan daerah yang banyak memiliki hutan-hutan
tropis sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Luasnya hutan yang ada di Indonesia harus mampu mendorong rakyat
Indonesia untuk melestarikan sumber daya alam yang tak ternilai harganya
ini. Pada kenyataannya saat ini keberadaan dan kelestarian hutan
diberbagai daerah terus saja menurun dari waktu kewaktu. Penurunan ini
seiring dengan pertambahan penduduk yang terus menerus meningkat serta
akibat dari kemiskinan.
Berdasarkan permasalahan yang timbul akibat rusaknya hutan di Indonesia yaitu salah satunya Global Warming. Penyebab Global Warming
adalah Efek Rumah Kaca, Efek Umpan Balik Karbondioksida, dan Variasi
Matahari, yang akan berdampak pada bumi seperti: (1)Penurunan
produktivitas pertanian, (2)Penurunan biodiversitas organism,
(3)Naiknya permukaan laut, (4)Iklim regional tidak teratur,
(5)Peningkatan frekuensi bencana alam, (6)Kurang kenyamanan hidup,
(7)Gangguan kesehatan, dan (8)Biaya hidup meningkat.
Untuk dapat menangani permasalahan tersebut diperlukan sebuah sistem
pengelolaan hutan yang dapat menjaga keberadaan, kualitas, dan fungsi
hutan secara berkelanjutan. Sistem tersebut adalah Agroforestry yang
memiliki konsep pemanfaatan hutan secara optimal dengan menggabungkan
tanaman-tanaman pangan yang berasaskan kelestarian bertujuan untuk
memenuhi kesejahteraan rakyat. Sistem ini merupakan salah satu sistem
pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah
yang timbul akibat adanya alih guna lahan tersebut dan sekaligus juga
untuk mengatasi masalah pangan. Dengan begitu hutan terjaga dan
kesejahteraan petani pun terpenuhi.
Kelestarian hutan merupakan
sumbangan terbesar bagi bumi untuk dapat mengurangi laju pemanasan
global dengan daun-daunnya yang rimbun dapat memperbesar absorbsi CO2 dari atmosfer bumi. CO2 merupakan
salah satu gas rumah kaca yang paling berbahaya jika lepas ke atmosfer.
Untuk itu mulai dari saat ini seluruh manusia harus mampu menjaga
kelestarian hutan dengan maksimal.
Kata Kunci : pengurangan, global warming, agroforestry
Pendahuluan
Negara Indonesia merupakan daerah yang banyak memiliki hutan-hutan
tropis sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Luasnya hutan yang ada di Indonesia harus mampu mendorong rakyat
Indonesia untuk melestarikan Sumber Daya Alam yang tak ternilai harganya
ini. Pada tahun 2005 kawasan hutan di Indonesia mencapai 93,92 juta
hektar (Departemen Kehutanan RI), pemanfaatannya berupa hutan tetap
seluas 75,27 juta ha, terdiri dari hutan konservasi 15,37 juta ha, hutan
lindung 22,10 juta ha, hutan produksi terbatas 18,18 juta ha, dan hutan
produksi tetap seluas 20,62 juta ha. Hutan produksi yang dapat
dikonversi seluas 10,69 juta ha dan area penggunaan lain (non kawasan
hutan) seluas 7,96 juta ha. Lahan hutan terluas berada di Papua (32,36
juta ha), diikuti berturut-turut oleh Kalimantan (28,23 juta ha),
Sumatera (14,65 juta ha), Sulawesi (8,87 juta ha), Maluku dan Maluku
Utara (4,02 juta ha), Jawa (3,09 juta ha), serta Bali dan Nusa Tenggara
(2,7 juta Ha).
Sebagai salah satu Sumber Daya Alam yang dapat dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan manusia, manfaat hutan dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu manfaat tangible (langsung/ nyata) dan manfaat intangible (tidak langsung/ tidak nyata). Manfaat tangible atau manfaat langsung hutan antara lain: kayu, hasil hutan ikutan, dan lain-lain. Sedangkan manfaat intangible atau
manfaat tidak langsung hutan antara lain: pengaturan tata air,
rekreasi, pendidikan, kenyamanan lingkungan, dan lain-lain (Siddik,
2004:12). Selain manfaat, hutan juga memiliki berbagai fungsi, dalam
Undang-Undang nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan, hutan mempunyai
tiga fungsi berdasarkan fungsi pokoknya, yaitu fungsi konservasi, fungsi
lindung, dan fungsi produksi. Dilihat dari ekologi fungsi hutan
mempunyai peranan penting dalam menetralkan gas-gas yang buruk bagi
bumi, selain itu dapat mengatur aliran air ke daerah pertanian dan
perkotaan, baik lokal, regional maupun global.
Pada kenyataannya saat ini keberadaan dan kelestarian hutan
diberbagai daerah terus saja menurun dari waktu ke waktu. Penurunan ini
seiring dengan pertambahan penduduk yang terus menerus meningkat serta
akibat dari kemiskinan. Pertambahan penduduk banyak terjadi di daerah
pedesaan yang hampir semua mata pencaharian utamanya di sektor pertanian
dan menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian dengan menjual
berbagai hasil produk pertanian. Terbatasnya lahan garapan pertanian
yang ada saat ini, menyebabkan petani penggarap yang tidak memiliki
lahan garapan akan membuka lahan garapan yang baru dengan cara merambah
hutan yang ada disekitarnya. Penggunaan lahan hutan menjadi lahan
pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan
kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan,
dan bahkan perubahan lingkungan global (Global Warming).
Diantara fungsi dan manfaat hutan, hutan mampu memberikan
perlindungan kepada bumi dari efek buruk yang dapat merusak bumi beserta
lapisannya. Salah satu efek buruk yang dapat merusak bumi serta
lapisannya adalah efek gas rumah kaca yang mampu membuat tipis bahkan
lubang pada atmosfer bumi sehingga berdampak terjadinya masalah
perubahan lingkungan global atau Global Warming. Istilah Global Warming menjadi sangat popular pada 20 tahun belakangan ini. Global Warming merupak istilah yang pertama kali digunakan oleh para peneliti kebocoran ozon pada tahun 1980-an di Antartika. istilah Global berarti seluruh bagian bumi dan Warming berarti pemanasan, sehingga pengertian sederhana dari Global Warming
adalah pemanasan bumi. Bakker, ( 1991) mengatakan bahwa gobal warming
adalah pemanasan yang disebabkan peningkatan suhu rata-rata permukaan
bumi diberbagai tempat di bumi. Laporan hasil konferensi perubahan
iklim di Bali (2008) Berdasarkan permasalahan yang timbul
akibat rusaknya hutan yaitu salah satunya Global Warming, maka
diperlukan sebuah sistem pengelolaan hutan yang dapat menjaga
keberadaan, kualitas, dan fungsi hutan secara berkelanjutan. Sistem
tersebut adalah Agroforestry yang memiliki konsep pemanfaatan hutan
secara optimal dengan menggabungkan tanaman-tanaman pangan yang
berasaskan kelestarian bertujuan untuk memenuhi kesejahteraan rakyat.
Sistem ini merupak salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin
dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih
guna lahan.
2.1. Pengertian Global Warming.
Atmosfer bumi mengandung berbagai macam gas, dan diantara gas-gas
tersebut terdapat beberapa gas yang dapat menyimpan dan menghalangi laju
kehilangan panas dari permukaan bumi ke atmosfer. Sebetulnya yang
dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana
molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek
rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang
alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur
normal, sekitar 30°C (Nggieng, 2008), Gas-gas penyimpan panas tersebut
kemudian menyerap dan menyimpan panas bergelombang pendek (matahari) dan
bergelombang panjang (bumi) pada atmosfer didekat permukaan bumi
sehingga menyebabkan suhu bumi meningkat (Johan. M, 2010).
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari.
Dengan jumlah energi ini, bumi kemudian mengalami pemanasan dengan
rata-rata suhu hanya 27o C pada awalnya, dan suhu ini sama
dengan rata-rata suhu normal sebuah kamar (Johan. M, 2010). Menurut
teori radiasi matahari selalu konstan dalam memancarkan cahayanya ke
bumi, hanya jumlah radiasi yang sampai di bumi dipengaruhi oleh banyak
faktor seperti kondisi atmosfer (awan, uap air, kristal garam, debu),
posisi bumi terhadap matahari (lintang dan bujur) dan rotasi bumi pada
porosnya (pergantian siang dan malam), sehingga suhu bumi selalu tidak
stabil. Ketidakstabilan ini yang menyebabkan kondisi iklim diberbagai
tempat di bumi juga berubah-ubah.
2.2. Penyebab Global Warming.
Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change)
tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia
semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas
rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan
Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang
dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah
iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai
positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya),
maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusialah (antropogenik) yang
menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global. (Handoko, 1995 dalam Cahyono, 2004).
Selain penyebab Global Warming yang sudah dijabarkan seperti Efek Rumah Kaca dan Efek Umpan Balik Karbondioksida, penyebab Global Warming
yang lain adalah Variasi Matahari. Variasi dari Matahari, dengan
kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi
kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini
dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas
Matahari akan memanaskan stratosfer
sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Fenomena
variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin
telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun
1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
2.3. Dampak Global Warming.
Pada dasarnya, para ilmuan menggunakan model komputerisasi untuk
mengukur suhu, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk
mempelajari pemanasan global (Global Warming). Berdasarkan
model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai
dampak pemanasan global bagi bumi dan wilayah pulau-pulau di bumi.
2.3.1. Dampak Global Warming bagi Bumi.
Pemanasan Global atau Global Warming tentu membawa dampak yang tidak baik bagi Bumi, seperti:
- Naiknya permukaan laut.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,
terutama sekitar Greenland,
yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh
dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan
para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35
inchi) pada abad ke-21.
- Iklim regional tidak teratur.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere)
akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya,
gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Pada pegunungan
di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit
serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di
beberapa area. Suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang
sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi
dan lebih ekstrem.
- Suhu Bumi Cenderung Meningkat.
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan
lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak
sama di beberapa tempat. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air
irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack
(kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami,
akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan
hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
- Penurunan Biodiversitas Organisme.
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari
efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia.
Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub
atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya,
mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat.
- Dampak Sosial dan Politik.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem)
baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim
ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty), Virus,
bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang
target nya adalah organisme tersebut. hal ini juga akan berdampak
perubahan iklim (Climate change)yang bisa berdampak kepada peningkatan
kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan,
DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu) Selain dampak yang telah
dijabarkan di atas, Global Warming juga akan membawa dampak
pada peningkatan frekuensi bencana alam, kurang kenyamanan hidup,
gangguan kesehatan, dan biaya hidup meningkat.
2.4. Pengendalian Laju Global Warming.
Konsumsi total bahan bakar fosil
di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang
dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat
mencegah pemanasan global pada masa depan. Tantangan yang ada saat ini
adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk
mencegah semakin berubahnya iklim pada masa depan.
Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali
yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Agroforestry.
Definisi Agroforestry.
Dalam seminar mengenai Agroforestry dan perladangan berpindah yang
diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kehutanan di Jakarta tahun
1981, terumuskan definisi dari Agroforestry, yaitu suatu metode
penggunaan lahan secara optimal, yang mengkombinasikan sistem-sistem
produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang Selanjutnya menurut
Perum Perhutani (1990), Agroforestry adalah manajemen pemanfaatan lahan
secara optimal dan lestari, dengan cara mengkombinasikan kegiatan
pertannian dan kehutanan pada inti pengelolaan lahan yang sama maupun
yang berurutan dengan tujuan peningkatan produktifitas dan kelestarian
hutan.
Manfaat Agroforestry.
Adanya berbagai jenis tanaman pohon-pohonan dan tanaman pertanian
yang ditanam bergilir atau secara bersama-sama akan diperoleh beberapa
keuntungan (Departemen Kehutanan RI, 1992), antara lain:
- Keuntungan ekologis, yaitu penggunaan sumber daya alam lebih efisien.
- Keuntungan ekonomis, yaitu jumlah produksi yang dicapai akan lebih tinggi, kenaikan produksi kayu dan pengurangan biaya pemeliharaan tegakan kayu.
- Keuntungan sosial, yaitu memberikan kesempatan kerja sepanjang tahun, menghasilkan panenan kayu pada musim paceklik pertanian serta produksi yang diarahkan kepada keperluan sendiri atau pasar.
- Keuntungan psikologis, yaitu perubahan yang relative kecil dengan cara produksi dan lebih mudah diterima oleh masyarakat daripada teknik-teknik yang berlandaskan sistem monokultur.
- Keuntungan politis, yaitu sebagai alat untuk member pelayanan sosial yang lebih baik dan kondisi yang lebih layak bagi petani.
Kontribusi Agroforestry Terhadap Pengurangan Dampak Global Warming.
Gas rumah kaca yang paling banyak terdapat diatmosfer bumi adalah Karbon dioksida (CO2). Jumlah CO2
diatmosfer adalah kira-kira 0.03 % dengan konsentrasi 300-350 ppm.
Karbon dioksida banyak diproduksi oleh hewan, manusia, mikroorganisme
dekomposer, pembakaran bahan organik, pembakaran fosil, industri ,
kendaraan dan lain-lain. Konsentrasi CO2 setiap tahun meningkat sebagai akibat meningkatnya sumber-sumber penghasil CO2 dan meningkatnya kerusakan terhadap organisme konsumer CO2 (tumbuhan) seperti misalnya kerusakan hutan.
Dilain pihak praktek agroforestry biasanya mengunakan 50 – 70 %
tanaman keras (tanaman perkebunan, tanaman buah-buahan dan tanaman
hutan). Tanaman keras secara umum memiliki biomas tanaman diatas 50
kg tiap individu tanaman, yang berarti kebutuhan konsumsi CO2 jauh berada diatas 5 x 105 molekul.
Hasil ini memperlihatkan bahwa model pertanian agroforestry memiliki sumbangan yang paling besar dalam absorbsi CO2 dari atmosfer bumi, jika pola ini diaplikasi secara tepat dan menejemen yang berkualitas.
No comments:
Post a Comment